Jumat, 18 Maret 2011

Peran Lingkungan Yang Mempengaruhi Tumbuh Kembangnya Perilaku Manusia


Opening Act: Ode To My Family by The Cranberries



Abstract
Adi Ankafia*
Katakanlah untuk mencapai Planet yang berjarak satu tahun cahaya (300000 Km/Detik) dari Bumi dibutuhkan waktu satu detik dan kita menggunakan kendaraan dengan kecepatan 600000 Km/Detik maka kita akan sampai dalam waktu setengah detik. Apabila Rotasi di Planet tersebut adalah satu hari sama dengan 500 tahun Bumi dan kita memutuskan kembali lagi ke Bumi setelah sepuluh hari berleha-leha disana menggunakan kendaraan yang sama dengan kecepatan yang sama pula maka dapat dipastikan ketika sampai ke Bumi kita sudah melihat evolusi yang sudah terjadi selama 5000 tahun dan umur kita hanya bertambah 10 hari 240 Jam 14400 Menit 864000 Detik + 1 Detik akumulasi dari waktu keberangkatan dan perjalanan kembali ke Bumi. Great!.

(*: Filsuf Astronomi dari NASA yang sedang mengambil studi Agribisnis di Institut Pertanian Bogor)

Sebelumnya gue mo nanya ama kalian semua…, 


Bagaimana sifat sumbangan/amal?.

Sukarela kan..?.

Artinya untuk melakukan sesuatu yang bernama menyumbang/beramal itu, individu/kelompok gak boleh ada paksaan dari diri sendiri maupun pihak lain. Semua harus dilandasi keikhlasan hati karena kegiatan tersebut merupakan bagian dari ibadah.

Lalu bagaimana kalo menyumbang/beramal itu dipaksa?.

Nah, inilah yang gue masih bingung sobat-sobat tercinta yang tersebar di seluruh penjuru tanah air yang gemah ripah loh jinawi ini. Kebanyakan kata penghubung “yang”. Bodo’, yang penting maksud bisa tersampaikan.

Jujur ini terjadi di salah satu swalayan terkemuka di kota tempat gue berdomisili sekarang sebagai mahasiswa jenius yang tergila-gila ama ASTRONOMI. BOGOR!.

Swalayan yang namanya sama kayak temennya Suneo di film kartun Doraemon itu sering narik sumbangan dari para pembeli dengan “paksa”.

Ilustrasi:
Hari itu cuaca di Jakarta lumayan panas banget. Gue kegerahan dan ngeluarin keringat banyak gilak pas nunggu kereta Pakuan Ekspress tujuan Bogor di Stasiun Gambir. Dampaknya fatal!. Gue jadi kehausan setengah mati. Hampir mendekati dehidrasi. Beruntung kereta yang gue tunggu-tunggu segera datang. Gue buru-buru menghambur ke dalam kereta dan duduk dengan manis di salah satu sudut bangku kereta yang pas banget di bawah AC-nya. Hmmm.., semilir angin yang berhembus dari AC untuk sejenak telah menyamarkan kehausan yang teramat sangat. Keringat yang membasahi serta bau sengak (kayak lu,.. sengak!.) perlahan mengering dan memudar disapu angin dari AC kereta. Gue menikmati perjalanan pulang kerja sambil mendengarkan lagu-lagunya Oasis dari walkman (halah!, gak ada yang lebih jadul lagi mas?!, radio merek Cawan misalnya.., radio jamannya mbahmu masih pake celana cutbray dengan rambut gondrong ala Mus Mujiono.). Maksud gue iPOD. Dan kalian tau kan, fluktuasi suhu itu bisa sangat menipu anda sodara-sodara. Gini, beberapa diantara kalian pasti pernah jadi Mahasiswa Pecinta Alam yang kerjaannya naik-turun-naik-turun+PIPIS & BOKER SEMBARANGAN di gunung kan. Kalian pasti pernah ketika sampai di sekitar bahu gunung hampir mendekati puncak lalu memilih beristirahat sejenak untuk sekedar bikin kopi/teh+minum arak/ngisep ganja buat ngangetin badan. Kopi/teh yang telah siap dan sedang anda seduh dalam waktu sekejap menjadi dingin sehingga anda meminumnya dengan lahap sangat. Sejauh anda berjalan hingga bisa menikmati sensasi sunrise dari puncak gunung segalanya masih baik-baik saja. Sampai pada akhirnya anda berada di rumah masing-masing beberapa hari kemudian dan mendapati tenggorokan anda kesakitan seperti habis terbakar. Nah!, ini sama. Pas gue sampai Bogor, begitu turun dari kereta, sejak langkah pertama memijak bumi rasa haus itu justru malah semakin mendera1. Sialnya, semua minimarket yang ada di sekitar stasiun pada tutup semua. Pegawainya pada cuti (asumsi: 3 hari menjelang lebaran). Gue mulai berpikir dimana gue bisa mendapatkan air mineral kemasan dalam waktu cepat sebelum gue tumbang di pinggir jalan dan meleleh seperti lilin. Gue segera berlari memanfaatkan sisa-sisa energi menuju tempat mangkal angkot 03 yang akan membawa gue ke Botani Square. Mall yang ada di dekat kampus gue. INSTITUT PERTANIAN BOGOR (suit.. suit.., hidup IPB!, hidup IPB!.., jayalah selalu IPB!… IPB di DADAKU-IPB KEBANGGAANKU!-Ku yakin kan me-raih predikat WORLD CLASS UNIVERSITY!).

[1. : Anjritt!. Bahasa gue Katon Bagaskara abis!.]

Bravo. Alhamdulilah. Segala puji bagi semesta yang telah memelihara keseimbangan alam sehingga gue sampai di Botani Square dalam kondisi yang masih mampu berjalan menuju swalayan yang udah gue maksud tadi dan segera memilih salah satu air minum kemasan yang telah diproses menggunakan teknologi canggih.


Dengan langkah gontai gue menuju kasir. Gue hampir-hampir aja tersungkur membawa beban seberat 500 ML itu.

Gue mulai mengantri...

Resah. Karena di depan gue beli satu batang sabun mandi aja bayarnya pake CREDIT CARD. Anj…!.

Suara adzan mulai menggema. Saatnya berbuka puasa. Dan gue masih dibelakang pelanggan sok pake CREDIT CARD sial itu.

Beberapa hari (halah!) menit kemudian ding.., sorry, sorry, efek dari dehidrasi stadium 1.

Giliran gue… tereeeeeetttt…..

Kasir nunjukin jumlah uang yang harus gue rogoh dari kocek untuk sebuah air kemasan 500 ML.
Rp. 1690,-

Gue ngeluarin duit Rp. 2000 rupiah sembari ngasih tau kalo gak usah diplastikin sama kasirnya.

Kasir mengerti dan menerima uang halal hasil gue membanting tulang lalu bilang:

“Maaf Mas, kembalian Rp. 300 rupiah-nya boleh disumbangin?.”. Yeah!. Untuk kesekian kalinya gue harus terlihat seperti orang cengoh (lagi) menghadapi pertanyaan tersebut. Dilema, man!. Gue yakin, gak cuman gue aja. Kalian kalo dihadapkan pada situasi-kondisi semacam ini pastinya tidak mungkin menjawab:

“Oh, tidak boleh mbak karena Rp. 300,- ini berarti banget buat hidup saya selanjutnya.” Atau

 “Jangan mbak, Rp. 300,- ini saya pake buat tambah-tambah nyicil kreditan Blackberry saya.” Atau apalah. Something like that.

Jangkrik!. Ini bukan masalah jumlahnya, bung. Ini masalah hak konsumen untuk mendapatkan pelayanan yang layak, salah satunya adalah mendapat kembalian dari pembelian barang yang seharusnya. Jujur, kadang gue ngerasa ini jadi kayak premanisme yang dibalut dengan rapih dalam tataran bisnis retail ala swalayan. Memang di swalayan tersebut ada propagandanya juga. Seperti gambar-gambar mengenai bencana alam, kekurangan gizi, krisis air, dll. Tapi konsep agar kita –konsumen- ikut andil dalam meyukseskan program-program pemberdayaan tersebut sangat keliru. Harusnya swalayan tersebut cukup bikin box kayak kotak amal dan ditempatkan pada sudut-sudut strategis.

Gue yakin. Kalo orang udah mau nyumbang/beramal cukup ngelihat gambar-gambar propaganda yang ada. Termenung. Lalu menangis terharu. Trus ngeluarin dompetnya dan dimasukkan ke box tersebut. 

Tapi lubangnya kan kecil. Cuman cukup buat selembar duit –maksimal- Rp. 100000,-.

Congkel dulu mas…, trus taruh dompet beserta isi-isinya.. setelah itu pergi sholat sana!. Dan jangan lupa untuk menghapal Qur’an!!.

Halah!, mo nyumbang/beramal aja ribet amat!.

Gue sering baca di buku/majalah/Koran, orang-orang yang dermawan/filantropis abis gak perlu diminta-minta tiba-tiba orang-orang semacam ADI ANKAFIA itu pergi/mengembara meninggalkan bisnis dan segala kejayaan duniawinya ala Che Guevara yang zodiacnya sama ama gue (penting ya.._) ke suatu tempat/lokasi/daerah/desa/Negara yang terkena musibah atau yayasan-yayasan yang menampung mereka-mereka yang kurang beruntung lalu meninggalkan harta/materi yang bermanfaat bagi keberlangsungan hidup mereka secara fisik dan psikis.

Kadang orang-orang semacam itu tiba-tiba menculik seorang dokter dan membawanya ke rumah sakit tempat dokter tersebut bekerja. Dia pegang pundak dokter itu, sambil menatap tajam ke arah mata si dokter dengan maksud menggugah empati, dan berkata: 

“Dok, saya akan mendonorkan darah saya untuk para penderita leukemia.., silakan ambil darah saya seperlunya sesuai ketentuan yang berlaku.”

Untuk sejenak si dokter terbengong-bengong akan semangat si filantropis yang tidak ingin disebutkan namanya tersebut. Lalu dia menjawab:

“Tapi mas, saya kan dokter HEWAN.., gak punya peralatan untuk pengambilan darah dari donoris (what it is?,, bener gak sih istilahnya begini?)”. Diiringi gelak tawa berbagai jenis binatang yang terbaring sakit di bangsal-bangsal yang mengelilingi mereka berdua. Harapan sembuh jadi meningkat.

Damn!, mimpi buruk macam apa lagi nih!. Kemudian si filantropisman segera kabur meninggalkan kolornya untuk menghipnotis mereka biar lupa ama kejadian yang memalukan ini.

Ironis memang. Di retail-retail/warung-warung kompleks perumahan, bahkan untuk jumlah terkecil pengembalian tetap diserahkan kepada pembeli/konsumen. Toh, terkadang tanpa diminta, konsumen bakal ngelupain kembalian yang gak seberapa itu.

Misal:
Suatu pagi, seorang ibu pergi ke retail kecil di sekitar kompleks perumahan tempat dia bersama suami dan anak-anaknya tinggal untuk membeli satu kilo telur dengan harga @Rp. 4800,-. Ibu itu menyerahkan uang Rp. 5000,-.

“Uangnya Rp. 5000,- ya bu,, berarti kembalianny…”

“Udah ambil aja mbak..” Diiringi senyum tulus khas ibu-ibu kompleks perumahan yang masih muda dan tetap sexy walaupun udah punya 3 anak.

Tentunya ini sangat beda sensasinya jika jumlah yang tak seberapa itu diminta secara paksa dengan cara yang halus seperti yang terjadi di swalayan yang gue ceritain ini. Awalnya biasa aja - lama-lama jengah juga.

Gue ngerti. Tujuannya emang baik. Mulia bahkan. Tapi hal-hal yang mulia itu tidak bisa didatangkan secara paksa. Ada semacam proses yang mengarah pada penemuan hidayah pada diri seseorang sehingga hal mulia tersebut akan dilakukannya dari dasar hati yang terdalam secara total-semata-mata karena ibadah-hanya mengharap ridho-NYA/SANG PENCIPTA.

Apa mungkin sudah sedemikian bekunya hati spesies yang disebut manusia ini seiring semakin berkembangnya teknologi yang bermuara pada individualistis tingkat tinggi.

Man.., sikap Invidualistis yang tumbuh itu menurut gue merupakan efek dari adaptasi lingkungan. Iya, lingkungan mempengaruhi tumbuh kembangnya perilaku seseorang. Pada akhirnya ketika kita berada di tengah kesunyian dan sendiri… kita akan sadar. 

Mmm… secara teoritis.., gimana ya meng-analogikan-nya..,

Begini:
Studi kasus dilakukan oleh seorang professor di bidang psikologis yang ingin membuktikan signifikansi pengaruh lingkungan terhadap perilaku individu dengan cara menculik sepuluh preman paling ditakuti dari beberapa kota dan dimasukkan didalam ruang isolasi. Di ruangan tersebut disediakan fasilitas TV Plasma 32 Inchi. Kemudian kesepuluh preman tersebut disuguhi DVD satu musim Mellowdramatic Korean semacam Sorry, I Love You... (yeah!!, Sorry, I Love You.., pengalaman pribadi cinta bertepuk sebelah... SETAN!!.)

Di ruangan tersebut crew professor secara rahasia meletakkan bebarapa CCTV dari berbagai angle untuk mengamati perilaku mereka di ruang isolasi itu.

Dan hasilnya sungguh menakjubkan, man!.

Pada saat menonton DVD tersebut, pada beberapa episode yang mengharukan, Sembilan dari kesepuluh preman itu berhasil menangis, bahkan lima diantaranya bisa dikatakan masuk ke dalam kategori muntah air mata. Hanya satu yang masih terlihat tegar dan itupun matanya sudah sangat berkaca-kaca.

Ketika ditanya:
“Bagaimana perasaan anda?.”

Preman itu tidak sanggup lagi berkata-kata. Yang dia lakukan hanya menenggelamkan mukanya ke bantal bermotif Pinky Strawberry.

Sekali lagi…
Biarkan kita dan semuanya melihat, mendengar, dan merasa dengan mata-dengan hati…..
Biarkan empati itu tumbuh dengan sendirinya, sehingga kita tahu hakikat kita sebagai manusia yang seutuhnya dalam ketidaksempurnaan untuk saling mengisi ruang-ruang yang masih kekurangan.
Bogor, 16 April 2010







Jumat, 11 Maret 2011

Teater Si Gembul



Opening Act: All Around The World by OASIS

Sob, ini kisah tentang seorang preman amatir pembuat resah di sepanjang Tanjung Avenue…..

Tanjung Avenue merupakan satu kawasan dengan potensi ekonomi yang tinggi. Tempat berkumpulnya anak-anak muda dari berbagai penjuru negeri yang dulu pernah menjadi bahan desertasi seorang perempuan ahli Asia Tenggara bernama Ann Swift dari Cornell University, USA berjudul : The Indonesian Communist Uprising of 1948. Fire Club Discotique adalah salah satu tempat paling central diantara bengkel-bengkel motor dan mobil yang ada di sepanjang Tanjung Avenue. Para crosser yang biasa nongkrong di bengkel-bengkel tersebut rata-rata juga member dari Fire Club Discotique. Tak ayal bisnis lahan parkir menuai sukses disini. Para investor berlomba-lomba mendapatkan sewa atau jika beruntung bisa membeli sepetak dua petak lahan untuk dijadikan lahan parkir. Selain lahan parkir, juga tumbuh pesat warung-warung tenda kaki lima. Kedua model bisnis itu saling menunjang satu sama lain. Jika ada pengunjung discotik style maksa lapar, maka ditengah-tengah gegap-gempita lampu disco dan music ajeb-ajeb, dia tinggal bilang ke teman-temannya: ‘Sob, gw ke toilet dulu yah, kebelet banget nih’. Lalu dia buru-buru ngacir keluar dari discotik menuju ke warung-warung tenda yang ada di seberang jalan. Dengan menyesuaikan budget yang tersisa di kantong dia celingak-celingukan kanan-kiri memilih warung secara selektif. Kalo bisa ada yang paket hemat gocengan udah ama lauk beef barbeque, french fries, spaghetti+nasi, fillet salmon, dan minumnya lemon tea (iya, habis itu lu yang dipanggang!). 

Di bawah kendali Mister Darren, Tanjung Avenue begitu makmur, aman, damai, ramah, dan tentram. Sangat kondusif. Bahkan pernah mendapat predikat Commonly Place dari bapak Walikota. Mister Darren hanya menanggapinya dengan biasa. Benar-benar orang yang low profile. Pembagian wilayah kekuasan lahan parkir sangat adil dan merata. Sehingga para genk yang berbeda motto dan aliran/prinsip bisa hidup berdampingan secara utuh tanpa cacat. Bahkan dengan aparat keamanan sekalipun. Mister Darren juga memprakarsai Kompetisi Futsal Tanjung Avenue Cup untuk mempererat hubungan silaturahmi antar genk. Dia juga yang mengatur kebijakan bagi investor lahan parkir untuk sewa lahan saja. Tidak boleh membeli. Menurut Mister Darren, dengan sewa lahan maka kesejahteraan warga sekitar Tanjung Avenue akan terdongkrak pelan-pelan menuju kesejahteraan yang didamba-dambakan karena warga tidak kehilangan assetnya yang paling berharga, yaitu lahan. Namun apabila para investor dibebaskan membeli maka jumlah uang yang digelontorkan bisa hilang begitu saja jika tidak bisa bijak dalam manajemennya. Demi mencapai idealismenya itu, Mister Darren membentuk tim penyuluh untuk memberikan arahan kepada warga  Tanjung Avenue mengenai mekanisme pengelolaan asset. Meskipun begitu, masih ada saja pihak-pihak yang ditunggangi kepentingan-kepentingan politik untuk menjegal kebijakan-kebijakan Mister Darren. Suatu ketika Mister Darren juga pernah ditawari sekian milyar untuk melepas Tanjung Avenue yang rencananya akan dijadikan sebagai Mall. Mister Darren marah besar. Merasa sangat disepelekan. Harga dirinya terluka. Bagi Mister Darren, warga Tanjung Avenue adalah keluarganya semua yang akan dilindunginya hingga titik darah penghabisan.

Yeah!. Sekian tahun berlalu. Kebersamaan di Tanjung Avenue selalu berkesan. Tidak ada pertikaian. Semua diakui persamaannya. Tertawa. Sesekali tour bareng ke Bali, Lombok, atau….. Sarangan….. nDungus (halah!). Dengan biaya yang dikumpulkan melalui iuran wajib per minggu.

Tapi, pagi itu….. ketika mentari mulai menyibakkan tirai fajar nan mengilukan tulang…..

Tanpa firasat..

Tanpa pesan..

Mister Darren harus memenuhi panggilan YANG MAHA KUASA…..

Tanjung Avenue berduka…

Oh, God, sebegitu cepatkah?..

Tapi semua yang ada di semesta ini memang milik-NYA. Kita semua harus ikhlas meski masih terasa sangat berat. Bumi adalah lorong waktu. Dan kita sebagai makhluk-NYA sudah memiliki kontrak masing-masing seberapa panjang periode yang akan kita habiskan dalam melintasi lorong waktu ini.

Mister Darren telah meninggalkan warisan yang sangat berharga dan harus dijaga dengan baik. Sebuah model pemerintahan yang sangat berpihak kepada rakyat. Sebagai seorang pemimpin, dia adalah pribadi yang tangguh, pantang mundur, figur pengayom, adil, dan tidak neko-neko. Dia ramah kepada siapa saja. Bahkan kepada musuhnya sekalipun.

Selamat jalan sobat…, semoga kedamaian senantiasa memelukmu disana…




Seminggu pasca wafatnya Mister Darren …

Tanjung Avenue sudah lengang di bahu malam yang lamat-lamat menukik menuju sunyi.

Di salah satu sudutnya berlangsung insiden yang tidak perlu terjadi sebenarnya.

Seorang pengunjung Fire Discotique yang hendak pulang karena ternyata diskotik udah tutup ketika dia sampai menyerahkan selembar uang seribuan kepada seorang tukang parkir yang menjaga mobilnya.

“Kira-kira dong, mas!, masak cuman seceng!,, kurang 4 ribu nih!..”. Bentak si tukang parkir songong tersebut sambil menggebrak pelan atap mobil. Pemilik mobil merasa keheranan. Biasanya emang cuman seribu. Lagian dia ngerasa juga belum lama markirin mobilnya. Cuman nyebrang sebentar ke arah diskotik trus balik lagi ke mobil karena diskotik ternyata udah tutup.

“Mas, tapi saya kan ga’ lama. Ga’ ada 15 belas menit malah. Harusnya tuh justru saya yang minta uang kembalian ke sampeyan.”. Jawab si pemilik mobil dengan volume dan intonasi suara yang diatur sesopan mungkin. Demi terhindarnya pertumpahan darah. Menyadari juga karena dirinya bukan warga Tanjung Avenue.


Tukang Parkir Gondrong Mirip Angling Dharma Yang Ditayangin Di Indosiar itu makin melotot. Ga’ terima ada yang berontak. Tanpa pikir panjang lagi dia menyuruh si pemilik mobil keluar dan mengajaknya duel man to man. Si pemilik mobil jengah. Ga’ takut sebenarnya. Dia terpaksa mengurungkan niatnya meladeni tantangan orang sinting itu karena masih ada beberapa aparat keamanan yang nongkrong di sekitar situ. Dia ga’ mau tujuan awalnya yang cari kesenangan malah berakhir di jeruji besi. Konyol itu namanya.


“Oke!, nih ambil semuanya!!.”.

Si pemilik mobil bergegas meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan kesal setengah mati setelah melemparkan selembar uang ke muka tukang parkir edan diiringi tatapan mata ‘awas lu ya ntar gw jadiin perkedel!’. Si tukang parkir merasa tersinggung ama kelakuan si pemilik mobil. Tapi setelah melihat ternyata yang dilemparkan oleh si pemilik mobil itu selembar uang 50 ribuan, matanya jadi ijo, ilernya netes-netes kayak anjing herder kena tetanus. Dasar preman matre!.

Damn!.. siapa sih tukang parkir menyebalkan itu?!.

Rese banget tau ga’ sih!.

Sok jagoan gitu. Kayak dia aja yang paling kuat dan berkuasa.

Nyebelin!, nyebelin!, nyebeliiiinnnn…….!!!!!.

Baik. Ketahuilah saudara-saudara sebangsa dan setanah air, bahwa dia adalah seorang Pedophil pecinta warna Pink yang oleh warga Tanjung Avenue biasa dipanggil dengan sebutan…..

(Five -- Four -- Three -- Two -- One – Zero --) 

Ladies and gentleman, please welcome: Gembul!.

Hah!, Gembul?.

Apa sih Gembul itu?.

Merk Celana Dalam ya?.

Atau nama ilmiah dari Belahan Pantat Kuda gitu?.

Binuuunn!!!,, manyuuuunnnn!!!.

Jelasin dund!!, jelasin!!!.

Jangan bikin semua jadi stress gini ah!!.

Hehehe…, calmdown man,.., calmdown..,

Oke, bakal gw ceritain dengan sabar pada kalian semua wahai generasi muda penerus bangsa, sesabar seorang kakek mendongengkan kisah-kisah inspiratif penuh nilai-nilai tauladan kepada cucu-cucunya.

Maka baca, dengar, dan rasakan dengan seksama, dengan telinga dan hati. Ambil nilai positifnya dan buanglah nilai negatifnya.


Semua berawal dari kesuksesan dia sebagai supervisor di salah satu kapal milik BUMN yang bergerak di bidang perminyakan paling tersohor di negeri Gemah Ripah Loh Jinawi ini. Ketika itu dia ditugaskan mengawasi sekaligus mengontrol operasional perusahaan di wilayah Bali dan sekitarnya. Dia menikmati kesuksesannya tersebut dengan sangat jumawa. Bak seorang raja dari negeri antah berantah. Ga’ nyangka ya, lulusan SMA bisa jadi supervisor. Anak buahnya aja rata-rata lulusan S1 dari berbagai universitas terkenal di Indonesia. Tiap hari kerjaannya ongkang-ongkang kaki, merintah sana-merintah sini, damprat sana-damprat sini. Dia memanfaatkan otoritasnya untuk melegitimasi kelakuan-kelakuan minusnya. Emang sih, ga’ bisa dipungkiri, dia juga seorang yang cerdas. Mengerti betul soal hitung-hitungan minyak. Anak buahnya ga’ mungkin bisa bohong atau curang. Dia pasti tahu. Gaya kepemimpinan yang memadukan antara kekuatan fisik dan otak itu sangat disukai atasannya. Sehingga dia terus dipertahankan selama masih menguntungkan perusahaan.

Seiring waktu berjalan yang berkorelasi lurus dengan tingkat kejumawaannya…
Terjadi pergolakan politik yang didasari oleh ketidakpuasan rakyat terhadap rezim pemerintahan yang berkuasa pada waktu itu. Gw ga’ terlalu suka ama hal-hal yang berbau politik. Gw juga jarang banget nonton berita-berita politik. Tapi intinya, pergantian rezim itu berdampak pada pekerjaan yang dia emban.
Yup!, betul bung. Seperti yang sering kita ketahui bersama gaya pemerintahan di Indonesia, setiap rezim selalu punya model sendiri-sendiri. Visi dan misinya selalu berbeda satu dengan yang lain sesuai ideology politik yang diyakini oleh pemimpin rezim. Tapi selalu ada kesamaan dalam prakteknya, yaitu: mewujudkan visi dan misi orang-orang terdekatnya dulu. Untuk rakyat yang udah pada milih kapan?. Entar dulu, itu mah urusan yang kesekian ribu.

Rezim yang telah menjatuhkan rezim sebelumnya memulai programnya dengan merombak seluruh tatanan. Mulai dari kebijakan-kebijakan yang menguntungkan pihak-pihak “sponsor”. Keuntungan pihak sponsor berbanding lurus dengan keuntungan pribadi pemimpin rezim beserta kroni-kroninya. Yang ini harus dibereskan dulu secepat mungkin. Buat balikin modal. Kalo ga’ gini bisa berabe nih. Mo beli mobil baru pake apa ntar?, mo beli tanah lagi pake apa ntar?, mo bikin rumah baru pake apa ntar?, mo beli baju-baju mahal pake apa ntar?, mo kawin lagi pake apaan ntar?.., mo ekspansi bisnis lagi dong…, lebih menggurita pokoknya mah. Trus rakyat yang udah taat bayar pajak nasibnya gimana?. Lah, emang urusan gw?!.

Yah, begitulah gambaran politik di Indonesia. Super duper trilyun kuadrat Corrupt. Sungguh-sungguh menyengsarakan rakyat. Imperialisme, kolonialisme, eksploitasi, partai-partai, kartel-kartel narkoba, mafia pajak, mafia hukum… dilindungi oleh Pemerintah. Sementara para TKI/TKW yang tengah terancam hukuman pancung…??.., Oke, bapak Presiden yang terhormat, banyaknya masyarakat Indonesia yang memilih mengadu nasib ke luar negeri merupakan indikasi adanya ketidakseimbangan/kesenjangan yang bermuara pada ketidaksejahteraan. Dan ingat, Pak!.., sedikit banyak dari kekayaan Negara yang ‘memfasilitasi’ anda adalah hasil jerih payah mereka. Nah, gw jadi menyinggung ranah politik nih. Cukup!, cukup!, cuman bikin emosi aja. Apa sih pentingnya suara rakyat kecil!.

Dan roda memang berputar. Kadang di bawah-kadang di atas. Orang bijak akan selalu bersyukur dimanapun posisinya. Orang tengil, ya kayak Gembul itu. Sombong. Perubahan tatanan oleh rezim baru itu menimpa juga pada perusahaan tempatnya bekerja. Dan ibarat pepatah pucuk di cinta Karma menyambut, Gembul ikut tereliminasi oleh arus perubahan yang sangat kejam. Tergilas, terhempas, ternoda (halah!, siapa juga yang doyan ngewek bokongnya!.), dan terbuang.

Sebulan pertama Gembul masih sanggup menghidupi dirinya sendiri di Bali. Bulan kedua dia sudah harus dapat pekerjaan lagi untuk menyambung hidupnya kalo ga’ pengen jadi Gembel di Pulau Dewata. Maka berbekal ijazah dan sertifikat-sertifikat pengalaman kerjanya, Gembul memulai petualangannya dari satu tempat ke tempat lain, dari satu kampung ke kampung lain, dari satu kecamatan ke kecamatan lain, dari satu kabupaten ke kabupaten lain, dari satu kota ke kota lain di seluruh penjuru Bali. Ini cari kerjaan apa mo jual diri?.

Huff!!. Gembul tampak kepayahan ketika turun dari bis umum di sekitar daerah Klungkung. Dia menyeka pelan keringatnya dengan sapu tangan merah jambu kenang-kenangan masa sekolahnya dulu dari seorang teman cowoknya yang ternyata… Hermaprodit. Sudah dua hari ini dia berkeliling menjajakan ijazahnya demi secercah harapan mendapatkan pekerjaan untuk menyambung hidup. Hasilnya masih nihil. Mall-mall, distro-distro, toko-toko cenderamata, restoran-restoran, warteg-warteg, pecel ayam-pecel ayam Lamongan, semuanya udah ga’ pada buka lowongan. Hampir putus asa Gembul. 

Sebenarnya kemarin sore sih dia dapat tawaran dari seorang juragan tani yang kewalahan mengurus lahan sawahnya yang berhektar-hektar luasnya dan lokasinya terpencar-pencar. Biarpun untuk pekerjaan tani, si juragan tersebut juga menerapkan system test masuk dalam perekrutan tenaga kerja kayak di perusahaan-perusahaan gitu. Mantap tenan.
Psychotest bisa dengan mudah diselesaikan oleh Gembul.., secara dia memang cerdas. Otaknya mumpuni.

Tiba saatnya wawancara…

Juragan tani tersebut mengangguk-anggukan kepalanya sambil senyum-senyum kagum melihat berkas-berkas ijazah dan sertifikat pengalaman kerja Gembul. Dia membacanya dengan seksama sambil duduk santai di atas kursi goyangnya yang dia beli sewaktu study banding mengenai Pertanian di Paris. Sementara itu Gembul duduk bersila di bawah juragan tani tersebut dengan perasaan tegang menunggu hasil akhirnya.
“Hmmm.. I see, I see.., you smart juga ya..,”. kata juragan tani tersebut menanggapi berkas-berkas Gembul. Penuh takjub. Dia memandang sebentar ke arah Gembul yang hampir copot jantungnya. Saking deg-degannya. “Jadi you sebelumnya pernah kerja di bidang perminyakan ya., hmm. Hmm.., good, good. Manusia-manusia kayak you itu pantas mendapat apresiasi. You berprestasi. Bodohlah orang-orang yang menafikan you..” Lanjut juragan tani tersebut sambil menepuk-nepuk bahunya sendiri. Gaje1!. Gembul agak lega. Ketegangannya mulai berkurang. Ada angin harapan buatnya.

[1. Gaje : Gak Jelas]

“Well, I cuman pengen tanya satu pertanyaan buat you, I punya banyak lahan and lokasinya terpencar-pencar, I pengen manajemen yang efektif and efisien dalam mengelolanya. You punya solusi?. Coba you share ama I supaya I bisa punya gambaran planningnya.” Juragan tani tersebut beranjak dari kursi goyangnya lalu berjalan mundur sambil melantunkan lagu The Scientist-nya Coldplay. Makin Gaje!.

Bip bip.. bip bip.. bip bip.., seolah ada sinyal yang mengirimkan pesan berisi jawaban atas pertanyaan juragan tani gaje tersebut kepada Gembul. 

“Ehm..!!” Gembul (berlagak) dehem-dehem biar kelihatan rada intelek.. “Begini pak, solusi paling praktis dengan biaya yang sangat ekonomis untuk permasalahan lahan yang terpencar-pencar tersebut adalah… dibakar pak!.., sisakan lahan yang berada dekat dengan tempat tinggal bapak, sementara itu, yang sudah dibakar bisa dijual pak, dan hasil penjualannya kasihin ke saya aja!,” Cerocos Gembul tanpa tedeng aling-aling dan mengakhirinya dengan senyum percaya diri sok pintar. Glek. Juragan tani terperangah mendengar usulan Gembul. Dahinya berkerut-kerut. Matanya memandang heran. Dia menggeleng-gelengkan kepala, ga’ habis pikir ama isi otak Gembul. Dengan sangat tergesa diliputi perasaan khawatir, si juragan mengambil peluit di atas mejanya dan meniupnya keras-keras. PRIIIIITTTTT!!!!!.

Sejurus kemudian… Gembul udah lari terbirit-birit dikejar puluhan ekor anjing rabies bodyguard si juragan tani.
 
“Jancuk koen!!.” Umpatnya kepada Gembul.

Gembul semakin merana. Dia sudah tidak punya apa-apa lagi. Bahkan untuk pipis di toilet umum pun dia terpaksa ngutang dulu ama penjaganya. Benar-benar gawat nih. Krisis financial akut. Bisa mampus ter(ng)gembel-(ng)gembel di tanah orang kalo kayak gini terus. Krucuk.. krucuk. Perutnya mulai meronta. Tapi Gembul hanya bisa gigit jari. Bersabarlah sedikit lagi Gembul. Mungkin Tuhan sedang menata sebuah rencana besar untuk anda. Ingatlah wahai Gembul keberuntungan dan keterpurukan itu hanya dibatasi oleh sekat tipis. Keduanya sama-sama berada di ujung roda nasib. Jangan pernah berhenti berusaha dengan dibarengi do’a.

Gembul mulai lunglai. Terkapar dan luka. Kepalanya nyut-nyutan. Pikirannya sudah tidak waras lagi. Rasa frustrasi menyerang bertubi-tubi tanpa bisa dia menangkisnya. Daya sudah habis. Pandangannya berkunang-kunang. Layaknya seseorang yang sedang tersesat di tengah-tengah padang pasir, diapun mulai berhalusinasi. Melihat sebuah fatamorgana. Oase bening nan meyegarkan mungkin akan menjadi penawar dahaga yang ditenggakkan melalui secawan penderitaan. Ingin dia berlari menyongsongnya untuk segera mengakhiri siksaan duniawi yang sedang ditanggungnya. Ah, tapi bagimana bisa, berdiri saja Gembul sudah tidak sanggup.
Diujung harapan yang hampir musnah tiba-tiba hape Gembul berbunyi…

Dasar kau keong racun……’ , 

Setelah berusaha sekuat tenaga mengumpulkan sisa-sisa energi, Gembul pun berhasil mengangkat hape-nya…
“ Ya.., halo.., hoss.. hoss… “ Rintih Gembul pelan dan ngos-ngosan, kecapean ngeluarin suara buat ngejawab panggilan.

“ Ya!, Ya!, ini Gembul ya!..” Balas suara dari seberang. Cowok.

Gembul mengumpulkan nafas sebentar. Mengaturnya pelan-pelan. Sehemat mungkin dia memanfaatkannya. Dalam hatinya bertekad, seandainya telpon ini hanya untuk sesuatu yang ga’ penting, misalnya mau menyewa dia untuk menjadi OGOH-OGOH di acara NGABEN, maka ia akan menutupnya.

“I.. iy.. iyaahh.., ini siapaaa?., hosssss..”. Fiuh. Keringat Gembul semakin deras menetes.

“Ini gw, Wayan, masih inget gak lu?. Gilak! Sethengah (nah, ketahuan Bali-nya kan lu) mampus gw nyariin no HP lu!, lu sekarang dimana!?, kesibukan lu apaan sekarang!?...

Gembul terdiam untuk beberapa detik. Coba mengingat-ingat lagi seseorang bernama Wayan yang sedang menelponnya. Dalam kondisi yang sangat lemah dia harus mengingat.. Wayan.. Wayan.. Wayan.. siapa sih Wayan.., Wayan Golek?, apa Wayan Kulit ?.

“Mbul??.. ini gw, Wayan!.. Wayan!.., lu inget ga!?.”

Masih hening.

“Oke, gw ingatin dengan masa krusial kita, kita sama-sama kena PHK dari perusahaan perminyakan tempat kita kerja kemarin!.” Sambung suara di seberang.

“Oh!, ya, sorry-sorry-.”

“it’s ok, nevermind, to the point aja, tempat gw kerja sekarang sedang butuh orang lagi nih!. Lu lagi kosong kan Mbul?. Lu mo ga’ gabung?. Honornya lumayan!.”

Kata ‘KERJAAN’ dan ‘HONORNYA LUMAYAN’ otomatis membuat semangat hidup Gembul bangkit lagi. Badan yang tadinya lemah, lesu, loyo, bergairah kembali. Dia tersenyum menyambut mentari yang muncul lagi.

 “Serius Way!?. Hati Gembul berbinar-binar. Dia melompat-lompat kegirangan seperti anak gadis baru pertama kali di ew… waow.. waow.., suara apa tuh..?. Seolah ada kekuatan magis yang merasukinya.

“Ya, serius lah!,,. Gila!, kapan gw ga’ pernah serius!, apalagi buat temen senasib sepenanggungan sebaik lu!.”

“Hahahaha.. bisa aja Way,, emang kerjaannya apaan?.”

“Jadi PENARI STRIPTEASE!!!!!. Mau kan lu?!!.”

 Hah… PENARI STRIPTEASE!!. Tek. Untuk sejenak Gembul membekapkan hape di dadanya. Berputar-putar pelan dengan perasaan penuh haru syahdu syubidub bidub bidam parampampam tralala trilili. Sambil menengadahkan kedua telapak tangan ke atas, bibirnya bergumam lirih : ‘Terima kasih TUHAN, engkau telah memberikan padaku kesempatan untuk menikmati pekerjaan yang telah menjadi obsesi aku selama ini.’. Kemudian Gembul melakukan sujud syukur dengan sangat khusyuk sekali. Dia begitu terharu.

“Halo!, halo!, Mbul!, Mbul!,, gimana mau ga’ lu!!?.”. Suara diseberang masih memanggil-manggil meminta kepastian.

 “Eh!, Oh,!,.. iyah, ghue (medhok Jawa) mau, Way, mau banget!.” .. Jawab Gembul setelah tersadar dari euphoria atas obsesi yang sudah di depan mata.

“Ya udah, kalo gitu besok pagi lu dateng ke ARISAN BAR di daerah Uluwatu. Ntar gw sms-in alamat lengkapnya. Ingat jangan sampe telat atau lu ga’ kebagian kostum striptease motif Wonder Woman yang lagi in!.”. 

“Iyah, ditunggu alamatnya, Way!.”

Klik. Mereka berdua menutup pembicaraan dengan deal yang saling menguntungkan satu sama lain.

Singkat cerita… Gembul akhirnya melakukan tanda tangan kontrak jadi PENARI STRIPTEASE dengan durasi tiga tahun . Sesuai namanya, bar tersebut memang tempat para kaum homo dari berbagai komunitas sebagai ajang kongkow-kongkow/hang out, mencari jodoh, dan arisan. Andai kalian bisa liat salarynya, dijamin pasti ngiler bombay. Ajib gilak gede banget. Bambang Pamungkas aja mungkin nilai kontraknya sebagai pemain PERSIJA masih kalah jauh, man!. Gendheng!.

Orang bijak bilang: Uang dan popularitas bukan jaminan untuk jadi bahagia. Bukan indikator mutlak yang dijadikan patokan/ukuran kebahagiaan seseorang. Dan itu, --setidaknya setelah satu tahun setengah mengemban sebagai PENARI STRIPTEASE—berlaku buat Gembul. Memang benar Gembul adalah primadona di bar tersebut. Dalam semalam dia bisa ngumpulin saweran dari pelanggan-pelanggan homo yang datang sejumlah salary per bulannya. Bahkan bisa dua sampai lima kali lipatnya. Edan. Sejauh itu pula, Gembul hampir-hampir masuk daftar orang tersukses dan terkaya versi majalah Forbes. Sayang, seandainya saja Gembul tidak menolak pinangan/lamaran dari wartawan majalah tersebut yang cowok/macho/gentle abis itu, mungkin Gembul telah bertengger di urutan paling atas.

Kesuksesan Gembul ternyata tidak berkorelasi lurus dengan kebahagian/kedamaian yang juga diimpi-impikannya. Majikannya/pemilik bar tempatnya bekerja sebagai PENARI STRIPTEASE yang berkewarganegaraan Arab ternyata adalah seorang maniak yang sangat-sangat sakit. Psychosex. Setiap kali Gembul gagal memuaskan hasrat birahinya, maka dia akan menyiksa Gembul. Mulai dari tamparan, pukulan, tendangan, disiram air panas, disetrika, ga’ dikasih makan (lah!, ini PENARI STRIPTEASE apa TKI sih!). Diantara perlakuan-perlakuan sangat tidak manusiawi itu, yang paling parah tentunya adalah hukuman PECUT!!. Dimana Gembul dipaksa membuka seluruh bajunya, dirantai di sebuah tiang, lalu sekujur tubuhnya diolesi mayonaise+saus sambal+kecap+mentega sekalian aja +sayur+daging asap dibuntel pake roti gulung, digoreng sebentar.. jadi deh Kebab Turky ala Chef Paling Tolol se-Dunia!, trus Gembul disuruh goyang-goyang ngebor ala Inul Daratista. Pas sebagian kecap nyiprat di sekitar kumisnya yang udah dicukur bersih, Gembul malah kelihatan lebih mirip Caca Handika lagi goyang ngebor. Selanjutnya sang majikan ganas itu ngambil pecut dan….. waduh!, kalian pasti bisa bayangin sendiri deh. Sadis dan ga’ jelas banget pokoknya. 

Gembul sudah tidak tahan lagi. Harga dirinya telah tercabik-cabik. Habis. Apalagi yang bisa dibanggakan. Diantara kekalutan yang mengepung akal sehatnya itu, Gembul nekat melarikan diri.
 
Dan di pagi yang buta itu..

Ba'da menunaikan ibadah sholat subuh untuk pertama kalinya lagi, setelah sekian tahun alpa…

Gembul memulai aksinya dengan mengendap-endap pelan untuk mengelabui para penjaga komplek bar yang masih terlelap dibuai hawa dingin yang lumayan menusuk. Ini sangat menguntungkan Gembul. Dalam sekejap waktu dia telah lolos...,

Gembul lari dari semuanya…..

Ketenaran/popularitas yang sedang dia sandang sebagai PENARI STRIPTEASE primadona bagi kaum homo…

Kelimpahan materi…

Semua dia tinggalkan demi kualitas hidup yang jauh lebih baik…

Gembul terus berlari seolah dalam adegan yang slow motion dan diiringi lagu Ebiet G Ade…

Kemanapun aku pergi
Bayang bayangmu mengejar
Bersembunyi dimanapun
S'lalu engkau temukan
Aku merasa letih dan ingin sendiri

Gembul tampak begitu letih atas penderitaan bersampul kemewahan yang ia peroleh. Wajah majikan Arab-nya masih begitu lekat menghantui. Ingin dia teriak sekencang-kencangnya melepaskan amarah. Tapi masih pagi banget. Takut disangka ngebangunin orang buat sahur. Secara bulan Ramadhan baru aja berakhir beberapa bulan yang lalu. Dan sekarang sedang masuk bulan Hijriyah. Halah!, jadi ngomongin bulan.

Ku tanya pada siapa
Tak ada yang menjawab
Sebab semua peristiwa
Hanya di rongga dada
Pergulatan yang panjang dalam kesunyian

Gembul telah kehilangan pijakan. Diantara langkah-langkah kaki berlari, dia lalu menyadari selama ini dia telah jauh dari Tuhan. Jarang bahkan hampir-hampir tidak pernah lagi beribadah dan beramal. Dia terlena dan larut begitu saja dalam ingar-bingar kehidupan hedonis di bar. Betapa sengsara dan sunyinya jauh dari kasih sayang Tuhan. Oh, God, ampuni dosaku, bathinnya.

Aku mencari jawaban di laut
Ku seret langkah menyusuri pantai
Aku merasa mendengar suara
Menutupi jalan
Menghentikan petualangan
Du du du


Sesaat, Gembul berhenti untuk mengatur napasnya. Memberi sedikit waktu buat lemak-lemak yang tersimpan di kedua belah bokong bohai semlohai aduHell-nya itu melakukan respirasi. Suatu proses dimana lemak-lemak tersebut diubah menjadi nutrisi dengan bantuan oksigen untuk mengganti kembali energy yang terbuang selama melakukan suatu aktivitas. Gilak!, lu orang apa onta gurun pasir?!.

Kemanapun aku pergi
Selalu ku bawa bawa
Perasaan yang bersalah datang menghantuiku
Masih mungkinkah pintumu ku buka
Dengan kunci yang pernah kupatahkan
Lihatlah aku terkapar dan luka
Dengarkanlah jeritan dari dalam jiwa


Penyesalan dan perasaan bersalah campur aduk-berkecamuk di dadanya. Begitu telak mencekik di kerongkongan. Tidak sanggup membendung lagi. Perlahan…, pada detik kesekian…, tangisnyapun pecah bagai tsunami seiring matahari yang mulai menampakkan wajahnya di ufuk timur. Menenggelamkan pijarnya planet Venus.

Aku ingin pulang uhuu
Aku harus pulang uhuu
Aku ingin pulang uhuu
Aku harus pulang uhuu
Aku harus pulang

Gembul sampai di pinggir pelabuhan penyeberangan Bali-Jawa. Gilimanuk.
Gembul berteriak menuntaskan beban : ‘Mamaaaaa!!!!!.., aku ingin pulang!!!!!,, hiks.. hiks.. hiks…’
Tubuh kokohnya seketika roboh di tengah tangis yang sangat emosional.
Orang-orang yang berlalu lalang di sekitar lokasi tersebut secara sukarela melemparkan kacang. Eits.., tunggu, bapak-bapak-ibu-ibu sekalian, mohon maaf yang sebesar-besarnya, dia bukan KERA yang kabur dari Sangeh ya..,. Ayo buruan menjauh sebelum dia mengamuk. Mood-nya lagi ga’ bagus.

Di benak Gembul hanya mendamba rumah. Satu persatu bayangan ibu tercintanya, ayahnya yang semakin menua, adik-adiknya yang terus bertumbuh berkelebatan. Memory masa kecilnya, ketika ibunya dengan sabar menuntunnya, menyuapi sarapan di pagi hari, mengantarkan pergi ke sekolah, menjemput, meninabobokkan. Lalu, siluet ayahnya membawa cangkul untuk pergi ke sawah, adik-adiknya berlari-lari riang gembira.

Tidak mau berlama-lama lagi larut dalam kesedihan yang membuncah, Gembul mencoba bangkit perlahan. Berjalan tertatih menuju ATM Centre yang masih berada di area Pelabuhan. Dia mulai mengantri mengikuti budaya semut…

Tiba gilirannya… 

Gembul merogoh-rogoh mesra kantong celananya. Tapi, alangkah kagetnya dia ketika mendapati kenyataan bahwa dompetnya tidak ada. Mampus!. Ini pasti jatuh pada saat lari tadi. Ah!, tidak-tidak, dia baru inget dompetnya ketinggalan di toilet bar tadi malam pas dia mau pipis sehabis pentas. Lah, kok bisa ketinggalan?. Jadi gini, di dompetnya itu ternyata dia nyimpen semacam mantra-mantra pengasihan gitu dan pantangannya adalah ga’ boleh dibawa saat pipis atau boker. Makanya tiap kali dia hendak melakukan kedua aktivitas itu, dia selalu ngeluarin dompetnya dulu trus ditaruh diatas kusen pintu toilet atau disembunyiin sementara di celah-celah rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.

Dasar goblok!. Makinya dalam hati. Dia segera minggir karena pengantre dibelakangnya sudah tidak sabar dan terus-terusan mengoceh seperti burung beo habis dikebiri. Gembul melangkah nelangsa keluar dari ATM Centre tersebut. Dia hanya bisa garuk-garuk kepala dan gigit jari menyadari keteledorannya. Di luar ATM Centre yang hiruk pikuk itu dia tampak seperti lelaki kecil yang sedang mencari eksistensi diri di jagad raya yang mahaluas ini. Tiba-tiba seorang gadis remaja tanggung dengan style traveller/backpacker/petualang yang terlihat juga sedang gundah gulana menghampirinya dan bertanya tentang makna cinta:

“Maaf Blih, saiyah mo tanya, kalo mo pergi ke air terjun Niagara ke arah mana ya Blih?.” Tutur tanyannya begitu sopan, lembut, dan dibawakan dengan intonasi yang anggun. Gembul tercengang sebentar kemudian melemparkan seulas senyum ramah menyambut pertanyaan si gadis belia. Gembul merangkulkan pelan tangan kekarnya di sekitar pundak si gadis. Menepuk-nepuk pelan. Seolah sedang menenangkan dan meyakinkan pada gadis tersebut bahwa dia tidak akan dijahati. Gembul menengadahkan kepala ke atas, memejamkan mata sejenak sambil menikmati sensasi terik mentari, menarik napas, Lalu melepaskannya pelan-sepelan detak jam dinding, dan menjawab dengan tidak kalah sopannya:

“Mbak tinggal cegat taksi aja, trus menuju bandara Ngurah Rai, pesen tiket pesawat ke Jakarta. Ntar dari Jakarta mbak tinggal naik Air America ya...” Gembul mencoba bersabar dan mengendalikan diri menghadapi si gadis yang memiliki rasa keingintahuan tinggi.

“Hah, kok jauh banget ya Blih?.”

“EAAAAA!!!, soalnya air terjun Niagara itu adanya di ONTARIO-KANADA!!, dasar BEGUNDAL KECIL TIDAK BERGUNA!!, mengganggu saja bisanya!!, enyah kau dari sini!!,.”

Lalu, apa yang seharusnya dilakukan oleh Gembul dalam kondisi seperti ini?. Dia sendiri juga masih bingung. Untuk sementara dia hanya bisa diam menatap jauh ke arah selat Bali dari pinggir Pelabuhan. Suara klakson kapal bersahut-sahutan. Makin menambah miris hati Gembul. Menyeberang dengan cara berenang jelas tidak mungkin. Itu merupakan cara yang sangat tidak rasional. Sangat nekat menjurus konyol. Mengingat dia sudah ditakdirkan tidak akan pernah bisa berenang selamanya karena sewaktu kecil dulu tanpa sengaja dia telah memakan buah iblis yang dibawa oleh bajak laut Shanks. Ehm!, sorry, itu cerita Monkey D. Luffy-nya ONE PIECE. Bego!.

Ditengah-tengah lamunan panjang akan masa depannya itu, terdengar sayup-sayup suara riang anak-anak. Gembul menoleh ke arah suara tersebut. Sekitar beberapa meter dari tempat dia berdiri terlihat anak-anak sedang berenang-renang di pinggir laut dengan penuh sukacita. Ada apa gerangan. Apa yang membuat anak-anak itu tampak bahagia bermain di laut yang semakin tercemar oleh limbah/polutan ini. Rasa penasaran mendorongnya untuk mendekat. Ternyata mereka adalah anak-anak pengumpul koin uang logam yang dilemparkan oleh para calon penumpang yang sedang menunggu kapal bersandar untuk mengangkut mereka ke seberang atau oleh turis-turis asing dan domestic yang ga’ sanggup beli celengan.

Gembul tampak takjub. Terus terang ini baru pertama kali dilihatnya. Ini fantastis. Diluar nalar dia. Dan, Aha!, dalam waktu sekejap Gembul sudah mengerti cara kerjanya. Seperti Hobil yang mendapat inspirasi dari seekor burung gagak ketika sedang kebingungan dengan jasad Habil, saudara kandung keturunan Adam yang dibunuhnya sendiri. Gembul membuka segera kaos dan celana lusuhnya dan langsung melompat ke laut bergabung bersama team pengumpul koin uang logam lainnya. Karena kurang pandai berenang, beberapa pengumpul koin sepakat untuk bergabung membentuk sebuah aliansi dan berinisiatif mencarikan ban pelampung untuk Gembul dalam rangka mensukseskan program ‘Save The Gembul’ yang disponsori oleh….. halah!.

Setelah uang yang dikumpulkan di dalam mulutnya dirasa cukup buat beli tiket kapal jurusan Gilimanuk – Ketapang, Gembul mentas dan segera berlari menuju loket.

“Yeah!!!, I got it!!.” Teriaknya penuh semangat sambil mengepalkan tangan ke atas ketika tiket sudah didapatkannya.

Finally. Setelah melalui perjuangan panjang penuh keprihatinan, Gembul bisa berkumpul kembali bersama keluarga di rumah. Home sweet home.

Setengah jam setelah insiden uang parkir ga’ penting yang melukai prinsip, mobil sedan Volkswagen putih metalik tadi datang lagi. Setelah memastikan sudah tidak ada lagi aparat keamanan disitu, dari mobil tersebut keluar empat pemuda tampan secara bersamaan (¶Zhi pa wo zi ji hui ai shang ni, Bu gan rang zi ji kao de tai jin, Pa wo mei shen me neng gou gei ni, Ai ni ye xu yao hen da de yong qi…., Zhi pa wo zi ji hui ai shang …, Eh!, bukan!, bukan!, ini bukan Meteor Garden, ding..). Salah satu dari mereka yang tadi terlibat langsung dalam insiden tersebut tampak mengelilingkan pandangan dengan raut wajah yang sangat bengis diikuti oleh ketiga temannya yang rata-rata rambutnya pada nutupin sebelah mata semua. Aura kematian mulai mengintimidasi. Lalu pemuda itu mengambil speaker dan berteriak:

“ Dijual murah, dijual murah, panci impor diju….”

Crassh!, salah satu temannya menyambit kepala peyangnya pake bumerang dari belakang.

“ Upss!, Sorry!!.. Ehm!!.,”[*pura-pura merapikan rambutnya sejenak untuk memberikan efek cool tapi angker sekalian ngembaliin wibawanya*] “Mana tukang parkir gila tadi!!.” Lanjutnya penuh hardik. Setiap orang yang ada di Tanjung Avenue mendadak jadi tegang. Semua seolah jadi berhenti dan mematung dengan berbagai pose. Ada yang mangap ketakutan, melotot kaget, air minum yang tumpah dari seorang pelanggan salah satu warung kaki lima yang lagi makan juga berhenti, lalu lintas juga berhenti, pesawat latihan mata-mata angkatan darat yang sedang melintas juga berhenti, bawang goreng yang ditaburkan ke semangkok soto berhenti beberapa senti di atas sebelum menyentuh ke permukaan kuahnya, anak kecil yang sedang melompat-lompat kegirangan berhenti mengambang di udara dengan pose seperti unicorn hendak memangsa putri duyung lagi hamil tua….. semua berhenti dalam kehampaan ruang dan waktu. Nol gravitasi. 

Suara pemuda dari speaker itu terbawa oleh angin sunyi hingga mengena ke telinga Gembul yang lagi main catur lawan Kidod, manusia herbivor berbadan zebra-berekor gorila, yang bernafas melalui selangkangan. Satu-satunya daging yang pernah dia makan adalah daging rayap, yang akhirnya menyisakan penyesalan mendalam setelah menyadari kalo rayap itu ternyata binatang bukan sayuran. Wow!, amazing!. Di salah satu gang sempit tak jauh dari lokasi kejadian, Gembul mulai mengintip. Jegg. Muka Gembul jadi merah, seluruh badannya gemetar ketika terlihat empat pemuda tadi mulai berjalan penuh selidik mencari-carinya sambil mengibas-ngibaskan pedang yang mereka bawa. Merasa takut disembelih, tanpa pikir panjang Gembul langsung kabur dari situ. Tapi sial ketika membalikkan badan, Gembul menabrak bidak-bidak catur yang menimbulkan suara berisik. Kropyak.. kropyak. Gembul sangat canggung. Hal ini tidak dimengerti oleh Kidod. Dan suara berisik itu didengar oleh mereka berempat yang langsung bergegas menuju ke arah asal suara tersebut.

“Ah!, itu dia!, buruan kejar!!.” Komando si pemimpin ketika melihat sekelebat tubuh Gembul yang lumayan gesit. 

Dalam waktu singkat terjadi aksi kejar-kejaran ala film-film mafia… dari Hongkong!. Gembul jelas hapal betul ama geografis wilayah Tanjung Avenue. Gembul berlari berbelok sana-berbelok sini, masuk gang sana-masuk gang sini, loncat sana-loncat sini, melintas gemulai diantara rumah-rumah warga Tanjung Avenue yang sedang terlelap dirajut mimpi. Lincah bagai tupai sakti. Keempat pemuda pemburu tersebut sangat kewalahan. Menyadari Gembul sudah sangat jauh, mereka memutuskan untuk kembali lagi ke mobil. 

Aduh mampus!!. 

Mereka berempat lupa arah baliknya…

Tolol!.

Kini Gembul telah berhadapan dengan tembok setinggi lima meter serupa Postdamer Platz di Berlin yang membatasi District Tanjung Avenue dan District Taman Avenue. Gembul mundur perlahan kurang lebih tiga langkah ke belakang dari tempat berdirinya semula. Dia mulai memejamkan mata dan merapal mantra-mantra entah apa namanya. Kemudian Gembul mnghentak-hentakkan kakinya sambil menari berputar-putar seperti penari hula-hula primitive di pedalaman Samoa. Ajaib!. Beberapa detik berikutnya Gembul terlontar bagai anak meriam melompati tembok kokoh yang sedang menghadangnya dengan angkuh.

Gembul berjalan santai menyusuri Taman Avenue yang tak kalah sunyinya. Sambil menyiulkan lagu Selamat Tinggal-nya Five Minutes.

Tok.. tok.. tok..

Gembul mengetuk salah satu rumah bergaya Mediteranian Joglo Art Deco. Tak berselang lama-setelah dia kentut dengan perasaan masygul-, sang penghuni: cowok, lajang, manis, filosofis, kesepian, mendamba cewek pengertian, dan menggemari masakan-masakan tradisional Indonesia terutama sambel terasi, membukakan pintu. Krieeek… sungguh pintu yang sudah sangat tua.. melebihi umur si majikan.

“Hai, Bay..” Gembul menyapa sambil cengar-cengir. Si pembuka pintu yang dipanggil ‘Bay’ barusan ngucek-ngucek matanya karena memang masih dalam keadaan mengantuk sangat.

“Ada apa Mbul?.” 

“Gw boleh numpang tidur ga’?, capek habis jogging.. hehe..”

Seperti sudah hafal tabiat Gembul, -sekali lagi- cowok yang dipanggil ‘Bay’ tadi mempersilahkan masuk dan langsung menuju kamarnya tanpa banyak tanya lagi.

Sambil memeluk guling bekas diompoli kucing-kucing peliharaan si ‘Bay’, Gembul tersenyum penuh kemenangan.

“Aman…”. Gumamnya pelan.
Bogor, 27 Februari 2011